![]() |
| Dosen Universitas Royal Ubah Limbah Kolam Lele Jadi Pupuk Organik, Tekan Biaya Produksi Peternak Lebih dari 11 Persen |
ASAHAN — buser-investigasi.com
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Royal berhasil membawa perubahan signifikan bagi Kelompok Pembudidaya Ikan Tani Makmur di Desa Tanah Rakyat, Kecamatan Pulo Bandring, Kabupaten Asahan. Melalui inovasi bernama Greenovation SmartBioFertilizer, limbah kolam budidaya lele yang sebelumnya hanya dibuang begitu kini diolah menjadi pupuk organik cair bernilai ekonomi, sekaligus menekan biaya produksi dan mengurangi pencemaran lingkungan.
Program yang berjalan selama empat bulan ini dipimpin oleh Muhammad Iqbal, M.Kom, didampingi dua dosen dan dua mahasiswa Universitas Royal. Ketua Tim PKM, Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa sejak awal mitra menghadapi tiga masalah utama, yaitu limbah air kolam langsung dibuang ke lingkungan, biaya pakan pabrikan yang sangat tinggi karena ketergantungan penuh, serta belum adanya diversifikasi produk dari limbah budidaya.
"Kami menghadirkan solusi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi usaha budidaya lele mereka," ujarnya.
Dengan pendekatan partisipatif, praktis, pendampingan, pengukuran, dan pengembangan, tim melakukan sosialisasi, pelatihan fermentasi menggunakan mikroba lokal, penerapan teknologi, hingga pendampingan produksi. Teknologi SmartBioFertilizer dilengkapi sensor internet of things untuk memantau suhu dan tingkat keasaman secara langsung selama proses fermentasi yang berlangsung tujuh hingga 14 hari.
Hingga bulan keempat, tim dan mitra telah memproduksi 75 liter pupuk organik cair dari dua siklus fermentasi dengan kualitas tingkat keasaman yang stabil dan tingkat keberhasilan di atas 90 persen. Seluruh limbah air kolam yang sebelumnya dibuang kini dialirkan ke unit pengolahan. Pemanfaatan pupuk organik tersebut pada tanaman pakan seperti azolla dan kangkung berhasil menurunkan ketergantungan pada pakan pabrikan sebesar 12 persen, yang berarti membawa penghematan biaya produksi bulanan sekitar 11 persen.
"Kalau dulu air limbah kami buang percuma, sekarang sudah bisa diolah jadi pupuk yang bisa dipakai sendiri dan bahkan mulai dijual," ungkap Edi Syahputra, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Tani Makmur.
Produk pupuk organik cair tersebut telah dikemas dalam ukuran satu liter dan lima liter dengan label sederhana, serta mulai diujicobakan kepada petani di sekitar lokasi. Standar operasional pengolahan pun telah disusun dan disosialisasikan kepada seluruh anggota kelompok yang beranggotakan 12 orang tersebut.
Dampak program ini terasa di tiga bidang sekaligus, yaitu lingkungan di mana lebih dari 50 persen limbah cair kini diolah sehingga beban pencemaran menurun, ekonomi melalui efisiensi biaya dan terbukanya peluang pendapatan tambahan, serta sosial di mana kapasitas sumber daya manusia meningkat dan kelompok ini kini menjadi percontohan bagi kelompok lain.
Ke depan, tim menargetkan peningkatan produksi menjadi 100 liter per bulan, perluasan areal tanam pakan, pelatihan anggota inti sebagai pengelola utama, serta pengembangan kemasan dan strategi pemasaran yang lebih luas. Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Di akhir kegiatan, Ketua Tim Pengabdian menyampaikan apresiasi. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemendikti Saintek yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mendapatkan pendanaan yang akan digunakan untuk melaksanakan kegiatan pengabdian. Tidak semua usulan proposal mendapatkan kesempatan, sehingga kami berupaya maksimal agar program ini benar-benar bermanfaat. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung kegiatan pengabdian masyarakat ini," ujarnya.(Don)
