![]() |
| Anarkis di Sumbul! Eskavator Dibakar, 4 Orang Dibacok Saat Buka Jalan Tani Milik Ahli Waris, Permohonan Pengamanan ke Kapolsek Diabaikan, Aparat Tidak Datang |
DAIRI - buser-investigasi.com
Puluhan warga Desa Pangguruan, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, terlibat bentrok brutal hingga menyebabkan sejumlah korban dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang. Dalam bentrokan ini, massa juga membakar satu unit alat berat ekskavator.
Aksi biadab itu terjadi di Dusun III, Desa Pangguruan, Kec. Sumbul, Kab. Dairi, Sabtu (29/8/2026). Massa menyerang membabi buta rombongan Kompol. (Purn.) H. Kajiman Sihotang yang sedang membuka jalan tani di Lumban Siboro ke Tombak Lama untuk membuka kolam di lahan seluas ±20 hektar milik ahli waris.
Alat berat ekskavator yang dikontrak H. Kajiman Sihotang dibakar hidup-hidup. 4 orang mengalami luka bacok dan lemparan batu. Hingga berita ini diturunkan, para pelaku masih berkeliaran bebas.
KRONOLOGI KEKERASAN
Awalnya H. Kajiman Sihotang secara resmi mengajukan permohonan pengamanan ke Kapolsek Sumbul. Tujuan: membersihkan dan membuka jalan dari Lumban Siboro menuju perladangan Tombak Lama.
"Ini untuk kepentingan masyarakat Pangguruan. Biar hasil tani warga bisa keluar. Biar nanti pemerintah bisa aspal jalan ini," tegas H. Kajiman.
Dia juga menanggung biaya transportasi dan uang makan 5 personel pengamanan.
Namun saat pekerjaan berjalan sekitar pukul 11.00 WIB, kurang lebih 50 orang massa datang ke lokasi. Tanpa basa-basi mereka langsung melakukan penyerangan, pemukulan, pelemparan batu, dan membakar alat berat ekskavator di lokasi.
Disebutkan Syahrin, bentrokan dipicu sengketa lahan milik H. Kajiman Sihotang yang digarap dan dikuasai sejumlah pihak tidak bertanggungjawab karena tidak memiliki dokumen. Sementara, lahan tersebut resmi milik pamannya Kajiman Sihotang yang juga didukung sertifikat dan putusan Mahkamah Agung.
4 KORBAN TERBARING DI RSUD SIDIKALANG
Hal ini disampaikan korban luka yang dirawat di RSUD Sidikalang, Syahrin Siboro (42), Jonnes Siboro (42), dan Jamilun Sihotang (54).
Akibat penyerangan itu, 4 orang kritis:
1. Herman Lingga - Mandor Eskavator. “Saya cuma kerja. Tiba-tiba dipukuli dan alat kami dibakar. Ini sudah kelewatan”
2. Jonnes Siboro (42) - “Kami diserang tanpa sebab. Kami cuma mau buka jalan untuk kampung”
3. Syahrin Siboro (42) - “Mereka memukul kami, melempar batu hingga luka-luka di tangan, kepala, dan sekujur tubuh. Tolong Pak Presiden, Pak Kapolri. Tangkap pelakunya. Kami warga negara, punya hak atas tanah sendiri”
4. Jamilun Sihotang (54) - Adik H. Kajiman. "Abang saya sudah lapor ke polisi untuk minta pengamanan. Kenapa malah kami yang dihajar?”
Keempat korban saat ini sudah membuat Laporan Resmi ke Polres Dairi dan menuntut para pelaku segera ditangkap dan diproses hukum.
TUNTUTAN KERAS
H. Kajiman Sihotang menyebut aksi ini bentuk politik kotor dan intimidasi terhadap ahli waris yang sah.
"Saya minta kepada Bapak Presiden, Kapolri, Kapolda Sumut, Bupati Dairi, DPR RI, DPRD Dairi, dan Bapak Kapolsek Sumbul untuk turun tangan. Negara harus hadir. Jangan biarkan premanisme menguasai Dairi," ucapnya geram.
Kasus ini menjadi ujian serius bagi aparat penegak hukum. Publik menanti: apakah hukum di Dairi masih berpihak pada pemilik sah yang punya SHM dan Putusan MA, atau tunduk pada kekuatan massa anarkis? (*)
