-->

Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Rabu, 09 September 2026, 13:56 WIB Last Updated 2026-09-09T06:56:58Z
Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada


Medan | buser-investigasi.com

Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Selasa (8/9) pagi setelah aktivitas vulkaniknya sempat menunjukkan tren penurunan. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), penurunan tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi secara menerus selama sekitar 25 jam. Di tengah situasi yang masih dinamis dengan berstatus Level III (Siaga), masyarakat di wilayah terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi yang terjadi dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.


“Berdasarkan pemantauan PVMBG melalui pengamatan visual, data kegempaan, dan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement), aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada tingkat erupsi yang relatif ringan. Meski letusan kecil cenderung berdampak lebih terlokalisasi, kondisi tersebut bukan berarti bebas dari risiko. Masih terdapat potensi letusan susulan, hujan abu vulkanik, aliran lava, dan bahaya lainnya yang dampaknya dapat menjangkau wilayah lebih luas,” ungkap Dosen Teknik Geofisika sekaligus Pakar Kebumian Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si.


Iktri menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik tersebut termasuk erupsi Strombolian, yakni erupsi dengan ledakan relatif ringan yang umumnya ditandai oleh letusan-letusan kecil, magma relatif encer, serta pelepasan gas secara berkala. Meski demikian, dampaknya tidak selalu terbatas di sekitar pusat aktivitas. Ukuran partikel abu vulkanik yang sangat halus memungkinkan material tersebut menyebar hingga ke wilayah yang jauh dari kawasan gunung api.


“Abu yang bergerak dengan kecepatan 10–20 knot atau sekitar 18–37 kilometer per jam tersebut menyebar ke arah timur laut hingga selatan dan menjangkau wilayah Jabodetabek serta Jawa Barat. Sebaran ini turut dipengaruhi oleh musim kemarau yang panjang. Dalam kondisi kering, abu dapat bertahan lebih lama di atmosfer dan terbawa angin hingga ke wilayah yang lebih jauh,” tambah Iktri.


Selain sebaran abu vulkanik, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga memiliki potensi bahaya lain yang perlu diwaspadai karena lokasinya berada di tengah laut, salah satunya tsunami akibat aktivitas vulkanik. Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut memindahkan volume air secara tiba-tiba dan memicu tsunami di sekitar Selat Sunda.


Sejumlah indikator dapat digunakan untuk memantau potensi ketidakstabilan tubuh gunung yang berisiko memicu tsunami. Indikator tersebut meliputi peningkatan aktivitas kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunung yang dipantau menggunakan tiltmeter dan GPS, kondisi serta kestabilan lereng, hingga perubahan pola erupsi. Sementara itu, tide gauge dan sensor tsunami digunakan untuk mendeteksi perubahan muka air laut yang mungkin terjadi akibat runtuhan tubuh gunung.


Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada

“Mengingat Gunung Anak Krakatau memiliki riwayat bencana penyerta, masyarakat perlu mencermati perkembangan aktivitasnya tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi dapat diperoleh melalui kanal PVMBG, BMKG, BNPB atau BPBD, serta media yang kredibel. Dengan mengandalkan sumber tepercaya, masyarakat dapat tetap tenang sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bahaya,” jelas Iktri.


Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang teknologi dan energi, Universitas Pertamina terus berkomitmen membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memahami dinamika bumi, menganalisis berbagai gejala kebumian, serta menyampaikan informasi ilmiah kepada masyarakat.


“Melalui mata kuliah seperti Seismologi, Geodinamika, serta Pengolahan dan Analisis Sinyal Geofisika, mahasiswa mempelajari proses kebumian dan mengolah data untuk memahami berbagai gejala alam. Pembelajaran tersebut dilengkapi dengan mata kuliah Penglibatan Publik untuk Proyek Sains dan Teknologi agar mahasiswa mampu menyampaikan hasil kajian ilmiah secara tepat dan mudah dipahami masyarakat. Kompetensi ini diperlukan untuk mendukung literasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujar Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra. (*)

Komentar

Tampilkan

  • Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada
  • 0

Terkini

Topik Populer